Masih di Posisi 8 Klasemen, Ini Penyebab Man Utd Rapuh

0
83
Man Utd musim 2019/2020
Permainan Man Utd musim 2019/2020

agreatportal.com, Liga Premier Inggris baru sudah berjalan 6 pertandingan. Man Utd pun masih berada di posisi ke-8 di tabel klasemen sementara. Dari 6 pertandingan yang sudah dijalani, si ‘Setan Merah’ baru mengoleksi 8 poin dari hasil 2 kali menang, 2 seri, dan 2 kali kalah.

Padahal di awal musim 2019-2020 saat menjamu Chelsea, Manchester United mampu menang besar dengan skor 4-0. Para pendukung saat itu merasa klub kesayangannya telah kembali ke ‘jalan yang benar’.

Namun, kemenangan tersebut tidak bertahan lama. Banyak yang menyebut Chelsea tampil dengan stok minimalis saat menghadapi United/ Frank Lampard juga masih mencari bentuk permainan terbaik bagi tim asuhannya. Ternyata permainan dari United tidak sepenuhnya superior.

Pada laga-laga selanjutnya, MU masih kesulitan meraih kemenangan. Hal tersebut menyiratkan bahwa anak asuhan Ole Gunnar Solskjaer masih rapuh. Diyakini, rapuhnya United disebabkan oleh beberapa hal.

Skema Permainan Menyerang yang Mudah Terbaca Lawan

Permainan ofensif cepat, dan fleksibel senang ditampilkan oleh Ole Gunnar Solskjaer. Demi menerapkan gaya permainan seperti itu, dia menyingkirkan Rumelu Lukaku karena dinilai tidak bisa menjalankan sistem yang dibangunnya.

United mengandalkan Anthony Martial, Jesse Lingard, dan Marcus Rashford. Namun saat lawan sudah mematikan ketiga pemain tersebut, maka Solskjaer tidak punya back up. Sebab, permainan seperti yang diinginkan oleh Solskjaer butuh banyak stok penyerang.

Sedangkan di skuat pelapis, MU hanya punya dua penyerang, Mason Greenwood dan Daniel James. Alexis Sanchez ke mana? Dikabarkan dia akan segera dijual ke Inter Milan.

Terbukti saat laga kedua melawan Wolves setelah menghadapi Chelsea. Meski perkasa di babak pertama, permainan MU kemudian dimatikan di babak kedua karena sudah terbaca lawan.

Pemain Kreatif Minim Stok

Man Utd masih rapuh
Man Utd masih rapuh musim ini

MU terlihat minim pemain kreatif di sektor tengah saat menghadapi Wolverhampton Wanderers. Hanya Paul Pogba yang berperan sebagai kreator. Figur kuat di lini ke dua amat dibutuhkan United untuk memainkan tempo, sebagai penyodor umpan bagi penyerang, serta bergerak agresif mengomandoi rekannya.

Terlihat ketika menghadapi Wolves. Di babak kedua, saat unggul satu gol, harusnya MU memperlambat tempo permainan, mencegah pergerakan agresif pemain ofensif dari lawan yang melakukan penetrasi cepat ke jantung pertahanan lawan. Namun, mereka malah terjebak memainkan permainan terbuka.

Lubang di Dua Sisi Melebar Pertahanan

Saat menghadapi Chelsea, duet Aaron Wan-Bissaka dan Luke Shaw di posisi fullback begitu memesona. Mereka agresif dan membantu serangan. Namun, kelemahannya, mereka sering terlambat turun ke belakang. Luke Shaw malah sering jadi bulan-bulanan oleh gelandang sayap lawan saat menghadapi Wolves.

Banyak peluang emas yang dihasilkan Wolves berasal dari dua sisi melebar pertahanan Man Utd. Kerapatan duo bek tengah, Victor Lindelof dan Harry Maguire menjadi renggang. Sehingga memberikan ruang bagi pemain Wolves untuk mengeksploitasi pertahanan Setan Merah permainan kombinasi di area pertahanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here