Potensi Manchester City Dihukum Terkait FFP, Begini Perjalanan Kasus Selengkapnya

0
107
Manchester City Dihukum
Manchester City Dihukum terkait kasus financial fair play

Agreatportal.com, Meski tampil mengesankan musim ini, tapi kemungkinan Manchester City dihukum berupa larangan tampil di Liga Champions. Hukuman ini lantaran adanya kasus pelanggaran Financial Fair Play (FFP) yang pernah terjadi kembali dibuka.

Jika dilirik penampilan anak asuhan Pep Guardiola musim ini berhasil meraih treble-winners domestik dengan mengoleksi gelar Liga Inggris, Piala Liga, dan Piala FA. Sehingga capaian ini menjadikan Manchester City sebagai klub sepakbola laki-laki pertama di Inggris yang bisa meraih gelar-gelar tersebut.

Meski puas dengan performa anak asuhnya, namun The Cityzens belum sukses meraih gelar tertinggi kompetisi Liga Champions. Tentu saja banyak harapan yang dikalungkan pada Pep jika melihat reputasinya yang akrab dengan tropi si Kuping Besar. Pep pernah empat musim bersama Barcelona dan meraih dua gelar Liga Champions.

Sempat difavoritkan juara, sayangnya langkah City terhenti saat di perempat final dikalahkan oleh Tottenham Hotspur. Tentu raihan gelar Liga Champions di musim depan adalah sebuah misi yang harus dituntaskan.

Sayangnya, di samping misi besar tersebut, kondisi Mancehster City juga diambang kekhawatiran. Hal ini disebabkan karena City diduga mengatur dokumen untuk mengakali FFP. Jika City terbukti melakukan kesalahan, tentu sankdi berat sedang menunggu. Bahkan salah satu sanksinya adalah City akan didiskualifikasi dari gelaran tertinggi klub Eropa itu selama satu musim.

Mancehster City dihukum akibat Finalcial Fair Play tahun 2014

Federasi Sepak Bola Uni Eropa UEFA menghukum City akibat pelanggaran aturan FFP pada musim 2014. City didenda 60 juta euro atau sekitar Rp931 miliar dan jumlah pemain yang diikutkan untuk Liga Champions tahun setelahnya dibatasi hanya 21 pemain saja.

Hal ini berawal dari kecurigaan UEFA mengenai keuangan City yang dinilai tidak seimbang. DI mana ketika di transfer musim panas 2013, City disebut terlalu boros saat membeli pemain. Sedangkan kerugian City sejak tahun 2012 dan 2013 mencapai 149 juta poundsterling.

Namun City akhirnya hanya didenda sebesar Rp 352 miliar karena memastikan akan mematuhi peraturan tersebut. Bersama CIty, ada delapan klub lainnya yang juga resmi saat itu mendapat hukuman dari EUFA, yakni Anzhi, Bursaspor, Galatasaray, Levski Sofia, PSG, Rubin Kazan, Trabzonspor, dan Zanit St Petersburg.

Manchester City dihukum terkait FFP
Manchester City dihukum terkait FFP. Begini sejarahnya

Manchester City dihukum pada 2014 dikarenakan adanya kesepakatan kerjasama dengan maskapai penerbangan Etihad. Di mana pada keterangan tersebut Man City mendapat 67,5 juta paun atau setara dengan Rp 1,21 triliun. Setelah dilakukan investigasi ternyata City hanya menerima sekitar 8 juta paun saja atau sekitar Rp 144,7 miliar dari Etihad. Sisanya dikeluarkan oleh pemilik City sendiri, Sheikh Mansour melalui konsorsium kepunyaannya Abu Dhabi United Group. Akal-akalan ini dilakukan agar City terhindar dari aturan Financial Fair Play yang sudah ditetapkan oleh UEFA sejak 2011.

Saat dijatuhi sanksi tersebut, ada pelbagai poin sanksi yang diterima klub Manchester itu, yang dinilai cukup memberatkan. Diantaranya adalah bahwa manajemen City tidak boleh mengajukan naik banding ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga Olahraga UEFA, Court of Arbitration for Sport (CAS).

Selain itu, City tidak boleh menaikkan gaji oemainnya sebelum adanya audit ulang yang dilakukan UEFA, termasuk gaji staff dan non staff. tetapi bonus staff tetap boleh diberikan.

City juga sudah menyepakati bahwa kerugian maksimum City musim 2013-2014 tidak lebih dari 20 juta euro. Sedangkan untuk musim 2014-2015 tidak boleh lebih dari 10 juta euro. Lalu, untuk skuad City yang berlaga di Liga Champions musim 2014-2015 hanya 21 pemain saja. Jika sanksi tersebut dipatuhi, maka di musim 2015-2016 sudah diperbolehkan 25 pemain.

City juga tidak boleh mengeluarkan biaya transfer melebihi 60 juta euro di tahun 2014-2015. Lebih lanjut, di Liga Champions, City juga dikenakan denda 10 juta euro. Jika City menjadi juara di Liga Champions uang hadiahnya akan dipotong 10 juta euro. Jika City tidak mematuhi aturan tersebut, denda akan bertambah menjadi 40 juta euro.

UEFA temukan bukti pelanggaran Manchester City

Asosiaso sepak bola Eropa atau UEFA dikabarkan sudah menemukan bukti adanya pelanggaran yang terjadi. Investigasi ini dibuka kembali berawal dari kemunculan dokumen Football Leaks pada November 2018 yang dimuat di surat kabar Jerman Der Spiegel.

Football Leaks merupakan kerjaan dari sekelompok peretas yang ketuai oleh Portugal Rui Pinto. Dalam dokumen yang berisi 70 juta berkas mengenai pelbagai pelanggaran dan transaksi gelap di dunia sepakbola. Di dokumen tersebut juga secara terbuka tertera mengenai kecurangan yang dilakukan oleh Manchester City agar tidak mendapat hukuman FFP.

Selain manipulasi laporan sponsor City dengan Etihad, ada juga penyelundupan dengan dalih sponsor yang terjadi sebelumnya. Ketika itu Man City bekerjasama dengan perusahaan Abu Dhabi, Aabar. Menurut laporan yang disampaikan ke UEFA, City menyebut kesepakatan tersebut bernilai 15 juta poundsterling. Tetapi menurut data dari Football Leaks, Aabar hanya memberikan tiga juta pounsterling saja, sisanya berasal dari dana sisipan dari kantong Sheikh Mansour.

Tidak hanya soal manipulasi nominal, tetapi menurut Football Leaks, City juga melakukan praktik penyimpangan lain seperti kerap mengubah tanggal kesepakatan kerja sama dalam laporan agar neraca keuangan tahunan seimbang. Tidak lain agar menghindari Manchester City dihukum UEFA akibat sanksi terkait FFP.

Manchester City dihukum lagi
Manchester City dihukum lagi karena kasus FFP

Ada juga kesepakatan yang tersembunyi City dengan mantan pelatihnya Roberto Mancini. Ternyata, masih menurut data dari Football Leaks, gaji Mancini yang dilaporkan City ke UEFA adalah palsu. The Guardian menyebut nilai dana yang diterima Mancini lebih dari kontrak profesionalnya yang diberikan langsung oleh Sheikh Mansour tanpa melalui laporan keuangan.

Pemberian dana Mancini yang disembunyikan ini dengan alasan Mancini juga ditunjuk untuk menjadi konsultan klub lain yaitu Al Jazira, klub milik Sheikh Mansour.

Setelah merengkuh Piala FA di bulan Mei lalu, seorang wartawan menanyai Pep soal kasus Mancini. Bahkan juga menanyakan pelatih asal Spanyol tersebut barangkali juga menerima perlakuan serupa. Tentu saja pertanyaan itu membuat Pep gusar dan menjawabnya dengan kesal.

Masih menurut laporan yang dikeluarkan Football Leaks, ada sebuah email di tanggal 14 Mei 2014 mengenai konspirasi City dengan Sekjen UEFA yang sekarang menjabat sebagai Presiden FIFA Gianni Infantino. Konspirasi tersebut berupa kesepakatan antara keduanya mengenai upaya jalur belakang agar City mendapat hukuman ringan mengenai sanksi FFp tahun 2014 lalu.

Benar saja, saat itu Manchester City dihukum didenda 60 juta poundsterling saja tanpa skors dari kompetisi Eropa Liga Champions. Tudingan ini tentu saja dibantah oleh manajemen City melalui pernyataan resmi. City menyebut adanya bocoran media tersebut adalah ketidakpercayaan pada hasil investigasi Tuan Leterme.

Manchester City dihukum terkait FFP, apa itu?

Financial Fair Play (FFP) ini sudah ada sejak tahun 2011 yang diberlakukan agar kesebelasan kaya di Eropa tidak bisa berlaku semena-mena. FFP ini dicetuskan oleh Michel Platini dengan tujuan mulia untuk menyehatkan finansial kesebelasan Eropa dan agar tidak ada ketimpangan antar klub di Eropa.

Di mana setiap klub di Eropa harus menyeimbangkan neraca keuangan mereka sebelum membeli pemain. Jika teledor dan tidak sesuai dengan rencana keuangan, klub tersebut disebut melanggar FFP dengan sanksi yang sudah menunggu. Klub tersebut harus memastikan ada uang sebelum belanja banyak pemain atau membeli pemain dengan harga mahal.

FFP ini tujuan akhirnya agar klub tidak terjerat hutang yang tentu saja bisa merugikan klub itu sendiri. Selain itu, aturan FFP ini juga untuk memberikan batasan pada pemilik klub agar tidak menggunakan kekayaan pribadi untuk mencapai target klub. Padahal dari segi pendapatan klubnya, neraca keuangannya sangat mustahil untuk mencapai itu.

Untuk perhitungan FFP mengacu pada musim kompetisi yang diawasi oleh Badan Pengawas Keuangan Klub UEFA (CFCB). Biasanya di bulan Desember alias pertengahan musim, diberikan laporan mengenai keuangan masing-masing klub apakah aman dari sanksi FFP atau tidak. Jika dari laporan tersebut klub itu terancam melanggar, maka pihak kesebelasan punya waktu enam bulan untuk menyeimbangkannya. Neraca keuangan ini bisa diseimbangkan dengan menjual pemain atau dengan kerjasama baru.

Biasanya banyak klub yang menjual pemain karena menjadi solusi cepat untuk terhindar dari hukuman FFP. Adanya FFP bukan berarti klub tidak boleh merugi, tetapi dibatasi kerugiannya. Kerugian yang dialami klub boleh lima juta euro per tiga musim. Bahkan bisa lebih jika dengan syarat-syarat tertentu. Maksimal klub boleh merugi hingga 30 juta euro dengan neraca keuangan dihitung sejak 2015.

Kerugian tersebut meliputi pembelian pemain, gaji pemain, staff dan non staff klub, serta pengeluaran lainnya. Tapi investasi stadion, peningkatan infrastruktur latihan, pengembangan usia muda dan pengembangan sepakbola wanita tidak dikategorikan dalam FFP.

Adapun pendapatan klub selain dari jual pemain adalah dari tiket pertandingan kandang, sponsor, hadiah kompetisi, hak siar, hak komersil, merchandise, dan lainnya. Tak heran jika klub besar akan menghasilkan pemasukan yang besar juga.

Sejak adanya FFp ini, pemilik FFP tidak boleh semena-mena menggelontorkan kekayaan pribadinya untuk keperluan klubnya. Tetapi pemilik klub boleh membantu menjembatani klub untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan relasinya untuk meningkatkan pemasukannya.

Jika ketauan melanggar aturan FFP, maka sanksi sudah menanti seperti peringatan, denda, teguran, pengurangan poin, penundaan pendapatan dari kompetisi UEFA, pembatasan jumlah pemain untuk skuat EUFA, larangan pendaftaran pemain baru di kompetisi UEFA, diskualifikasi dari kompetisi UEFA, serta pencabutan gelar juara untuk kompetisi UEFA.

Beberapa kesebelasan pernah merasakan hukuman terkait FFP ini seperti Besiktas yang pernah dicabut lisensi klubnya dari UEFA yang membuat mereka tidak bisa berlaga di Liga Champions dan Liga Europa selama satu musim. Ada juga Levski Sofia yang didenda 200 ribu euro serta pengurangan jumlah skuat UEFA selama satu musim. PSG dan City sama-sama didenda 60 juta euro termasuk adanya penundaan hadiah sebesar 40 juta euro dan pembatasan jumlah skuat.

Mau tidak mau semua klub harus bisa mengakali keuangan agar pengeluaran di akhir musim bisa dikendalikan.

Pada Agustus 2017, PSG mencatat pembelian pemain termahal dunia dengan menebus klausul pelepasan Neymar Jr seharga 222 juta euro. Lalu memboyong Kylian Mbappe dengan status pinjaman dengan mahar 45 juta euro. Kemudian Mbappe dipermanenkan di musim selanjutnya dengan dana tambahan sebesar 135 juta euro.

Manchester City saat itu dalam tiga musim terakhir total menghabiskan hampir 600 juta euro. Harusnya dengan kerugian sebesar itu, PSG dan Manchester City harusnya tidak bisa melakukan pembelian pemain besar-besaran karena kerugian yang membengkak di tiga musim terakhir karena melampaui batas normal yang sudah ditentukan FFP.

Manchester City dan PSG Pernah Terhindar Hukuman

Menurut data dari Football Leaks, PSG dan Manchester City pernah ditolong oleh UEFA untuk menutup pelanggaran finansial besar yang terjadi pada kedua klub tersebut sehingga menyelamatkannya dari hukuman FFP.

PSG yang dimiliki oleh Qatar Sports Investments (QSI), diduga melakukan transaksi kotor dengan menyuntik dana 1,8 miliar euro ke kas PSG sejak diambilalih tahun 2011 lalu. Kongsi bisnis Qatar dan Abu Dhabi Sports Group sudah mengucurkan sekitar 4,5 miliar euro dalam rentang waktu tujuh tahun. Dana sebesar 2,7 miliar euro dipastikan sudah masuk ke kas Man City dalam kurun waktu tersebut.

Hal ini untuk menutup kerugian klub sehingga bisa bebas saat diaudit FFP. Formatnya dengan menggelembungkan dana sponsor.

Presiden FIFA Gianni Infantino yang waktu itu menjabat sekjen UEFA mengetahui hal tersebut dan memberikan tindakan ilegal di tahun 2014. Ketika dana yang tidak sehat itu diketahui, Gianni malah menugaskan CFCB yang bertugas menyelidiki pelanggaran aturan keuangan untuk agresif menyelesaikan pelanggaran FFP klub “tidak berduit” lain yang ada di RUmania dan Turki, misalnya.

lalu, Infantino menyebut defisit yang dialami Man City dan PSG masih dalam tahap aman dan tidak melanggar FFP. Padahal ada defisit kerugian PSG sebenarnya adalah 218 juta euro dan City sekitar 188 juta euro. Tentu saja angka ini melanggar FFP sehingga harusnya PSG dan Manchester City dihukum atas kasus ini.

Infantino juga disebut melakukan pertemuan rahasia selama investigasi FFP dijalankan. Pertemuan rahasia itu dilakukan bersama petinggi klub keduanya di sejumlah tempat. Saat pertemuan itulah Infantino memberikan rincian rahasia agar proses audit bisa direkayasa. Selain itu dia juga membuat sketsa saran agar penyelesaian dengan asosiasi serta mengajukan kompromi. Sehingga Man City dan PSG hanya dihukum sanksi uang dan membatasan jumlah pemain yang berlaga di Liga Champions sebanyak 21 pemain saja.

Kemungkinan Manchester City dihukum

Dengan daftar pelanggaran disebutkan sebelumnya, ancaman larangan tampil di Liga Champions merupakan hal wajar diterima City. Yves Leterme yang memimpin investigasi kasus City sudah merekomendasikan hukuman serupa pada UEFA.

Tapi CEO La Liga Javier Tebas justru menyampaikan hal bertolak belakang. Dia menyebut Manchester City dihukum serius oleh UEFA adalah sesuatu yang mustahil. Sebab menurut dia, mereka punya hubungan lebih dekat dengan para petinggi klub sepak bola tersebut.

Tebas juga menyoroti agar petinggi UEFA memberikan hukuman yang setimpal agar klub lain yang melakukan hal serupa.

Namun presiden baru UEFA Aleksander Ceferin berkomentar mengenai tanggapan dari Tebas. Ceferin menyebut Tebas memang hanya mencari sensasi saja. Sebab Tebas juga terkenal suka menentang klub-klub kaya di Liga Inggris karena disebut merebut sportivitas sepakbola dengan kekayaan yang mereka miliki. Sehingga Ceferin menyebut komentar Tebas tersebut masih berkaitan dengan konteks sikap sensi itu.

Tetapi terkait kasus Manchester City dihukum, Ceferin belum ingin bereaksi dan memberikan komentar yang banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here